Cok, Rek, dan Rasa Bangga yang Masih Hidup di Lidah Arek Suroboyo
- Sabtu, 24 Oktober 2026 20:48 WIB
- CULTURE
OALA.id – Di Surabaya, sapaan bisa terdengar keras di telinga orang luar, tapi hangat di telinga sesama arek. “Kon yaopo kabare?” — kamu apa kabar — bisa meluncur begitu saja di warung kopi, di pasar, atau di grup obrolan teman lama. Nadanya tinggi, katanya pendek, maksudnya jelas: ini bahasa pertemanan.
Itulah bahasa Suroboyoan, dialek Jawa yang hidup di Surabaya dan sekitarnya. Menurut panduan frasa Wikivoyage, varian ini dipakai terutama di Kota Surabaya dan wilayah sekitarnya seperti Gresik dan Sidoarjo, serta pernah menjadi lingua franca komunitas multikultural di kawasan Surabaya Raya. Ia termasuk keluarga Jawa Timuran yang berkerabat dengan dialek Malang-Pasuruan, dan mendapat pengaruh Madura, terutama di Surabaya timur laut.
Bahasa yang tidak mengenal kasta kata
Ciri paling sering disebut dari Suroboyoan adalah kesetaraannya. Dalam dialek ini, menurut laporan jawawa.id, tidak ada perbedaan pemakaian istilah berdasarkan status: kata mangan (makan) bisa diucapkan kepada siapa pun, tanpa memandang kedudukan orang yang diajak bicara. Bandingkan dengan bahasa Jawa Yogyakarta yang mengenal tingkatan — di sana mangan menempati strata terendah dan dipakai antar teman atau dari majikan kepada pelayannya.
Cak Kadar, yang dikutip jawawa.id, mengaitkan keunikan itu dengan semangat perlawanan arek Surabaya pada masa kolonial. Menurutnya, kebencian terhadap kekuasaan kolonial menumbuhkan rasa kesetaraan di antara warga, dan mereka melawan siapa pun yang menempatkan diri di kelas atas atau sebagai atasan. Itu adalah tafsir sejarah, bukan satu-satunya penjelasan yang pasti — tapi ia menjelaskan mengapa Suroboyoan terasa begitu datar, blak-blakan, dan egaliter.
Penelitian Universitas Negeri Surabaya oleh Mulyono dan kawan-kawan sampai pada gambaran yang sejalan: bahasa Suroboyoan adalah bagian dari subdialek Jawa Timur yang punya kekhasan pada leksikon, ungkapan, dan idiom yang terasa kasar. Meski begitu, penelitian itu mencatat keberadaannya cukup stabil dan berkembang karena penuturnya banyak dan setia, terutama di kalangan remaja dan warga asli Surabaya.
Kamus mini dari jalanan Surabaya
Sebagian kosakata Suroboyoan sudah akrab di telinga siapa pun yang pernah lama tinggal di kota ini. Berikut beberapa contoh yang terdokumentasi dalam panduan dan penelitian yang dirujuk artikel ini — bukan daftar yang mengada-ada, melainkan kata yang memang dipakai sehari-hari:
- kon — kamu
- rek — sapaan akrab, kira-kira seperti kawan
- cok — sapaan akrab antar teman dekat; menurut prosiding UIN Ponorogo, di kalangan teman kata ini justru menjadi penanda persahabatan, bukan tanda marah
- nangdi — di mana, seperti dalam “nangdi ae awkmu, cok?” (ke mana saja kamu?)
- yaopo / piye kabare — apa kabar / bagaimana kabarmu
- suwun — terima kasih
- mangan — makan, dipakai untuk siapa pun
- ta — partikel penegas di akhir kalimat tanya, seperti “kon pacaran mbek Rama ta?”
Nada bicara orang Surabaya, menurut prosiding UIN Ponorogo, memang bernada tinggi. Karena itu kalimat yang terdengar seperti membentak belum tentu bermakna marah — sering kali itu hanya cara bicara yang biasa.
Ada pula idiom-idiom yang dicatat penelitian Universitas Negeri Surabaya, misalnya balon online, politisi bosok, gak kakehan cangkem (tidak banyak bicara), dan duwite mbah sangkil (sindiran untuk orang yang tidak punya uang sebanyak itu). Bentuknya bisa berupa singkatan, plesetan, umpatan, maupun gabungan dua atau tiga kata — dan maknanya sering tidak bisa ditebak dari kata per kata.
Kata ikonik yang asal-usulnya tidak tunggal
Kata paling ikonik Suroboyoan tentu saja jancuk — dan justru di sinilah kehati-hatian penting. Artikel ini tidak mengklaim satu etimologi pasti, karena sumber-sumber yang dirujuk tidak menyepakati satu asal kata tunggal. Yang bisa dikatakan dengan aman: kata itu dikenal sebagai umpatan khas Surabaya, dan dalam laporan jawawa.id maknanya dijelaskan sebagai seruan yang merujuk pada kotoran.
Di luar layar, kata-kata seperti itu juga berubah menjadi identitas dagang. Merek suvenir Cak Cuk Surabaya memakai slogan “kata kata kota kita” dan menjual kaus-kaus bertuliskan kosakata Suroboyoan, menurut kajian sosiolinguistik Tom G. Hoogervorst tentang bahasa gaul Jawa Timur. Nama merek itu sendiri merujuk pada cak (kakak) dan cuk — dua kata yang menjadi ciri kota ini. Di sini bahasa bukan lagi sekadar alat bicara, melainkan oleh-oleh dan pernyataan bangga.
Dari layar televisi sampai kaus oblong
Suroboyoan pernah naik kelas menjadi bahasa berita. JTV Surabaya meluncurkan Pojok Kampung pada 7 Juli 2003 sebagai program televisi pertama di Indonesia yang sepenuhnya dibawakan dalam bahasa daerah, menurut kajian Hoogervorst tentang sosiolinguistik Surabaya. Program itu menjadi terobosan karena presenternya tidak memakai pakaian adat Jawa seperti yang dulu diasosiasikan dengan pemakaian bahasa Jawa di televisi.
Studi Litera Kultura Universitas Negeri Surabaya mencatat sisi lain dari program itu: Pojok Kampung memakai dialek Jawa-Surabaya, menuai kontroversi karena dianggap memakai banyak kata vulgar, tapi sebagian warga menilai program itu justru memberi pengetahuan baru tentang dialek Jawa dan membantu melestarikan bahasa daerah. Perdebatan itu sendiri adalah bukti bahwa bahasa ini tidak pernah netral — ia selalu diperdebatkan, dicintai, sekaligus dikritik oleh penuturnya sendiri.
Di luar televisi, ludruk — seni pertunjukan khas Jawa Timur — juga hampir selalu memakai dialek Surabaya dalam dialognya yang jenaka, dan itu menjadi salah satu panggung paling awet bagi Suroboyoan. Bahasa yang hidup di panggung, di layar, dan di kaus tentu lebih sulit padam daripada bahasa yang hanya tersimpan di kamus.
Yang mulai jarang terdengar, dan yang perlu dijaga
Tidak semua kata bertahan sama kuatnya. Ahli bahasa Universitas Negeri Surabaya, Setyo Yuwono, yang dikutip jawawa.id, mengakui pemakaian dialek Suroboyoan sebagai identitas lokal, tapi menilai perlu ada pedoman. Ia juga menilai sejarah bahasa adalah sebuah proses, dan wajar bila suatu dialek ditinggalkan oleh bahasa lain yang lebih sering dipakai.
Seniman Surabaya Priyo Aljabar, yang juga dikutip jawawa.id, justru menyalahkan pemerintah yang dinilai gagal melestarikan dialek itu. Ia mempertanyakan mengapa pelajaran bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah-sekolah Surabaya memakai versi Yogyakarta, bukan dialek lokal. Pertanyaan itu masih relevan sampai sekarang: bahasa apa yang didengar anak Surabaya di kelas, di rumah, dan di gawai mereka?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa dijawab satu artikel. Yang jelas, bahasa Suroboyoan masih hidup karena masih dipakai — di pasar, di warung kopi, di terminal, di panggung ludruk, dan di kolom komentar kreator lokal. Selama sapaan “kon yaopo kabare?” masih dijawab dengan tawa, bukan dengan kebingungan, identitas itu belum padam.
Jadi, kata Suroboyoan apa yang masih kamu pakai setiap hari — dan kata apa yang sudah lama tidak kamu dengar lagi?
Baca juga: Dari Panggung Kampung ke Layar Ponsel, Ludruk Jawa Timur Berjuang Tetap Hidup
Rekomendasi Untuk Anda
Vinicius Menonton dari Tribun: El Clasico Tanpa Sang Provokator
- Sabtu, 24 Oktober 2026 06:38 WIB
Barcelona, OALA.id – Pemain yang paling sering menjadi pusat keributan El Clasico justru tidak akan berada di lapangan. Vinicius Junior harus menonton dari tribun Camp Nou, Senin (26/10/2026) pukul 03.00 WIB. Komite Disiplin RFEF menjatuhkan skorsing empat laga kepada Vinicius. Sanksi itu lahir dari kartu merah langsung setelah ia menarik rambut bek Villarreal, Nathan Saliba, […]
Kursi Carrick Belum Bergeser, tetapi Ruang Direksi Sudah Bersuara
- Jumat, 23 Oktober 2026 20:09 WIB
Kursi Carrick Belum Bergeser, tetapi Ruang Direksi Sudah Bersuara Manchester, OALA.id – Michael Carrick masih akan berdiri di tepi lapangan Old Trafford pada Minggu malam. Namun, perdebatan tentang penggantinya sudah dimulai di ruang lain. Menurut laporan talkSPORT yang dilansir Bola.net, manajemen Manchester United terbelah menjadi dua kubu. Perbedaan itu menyangkut arah klub jika perubahan pelatih […]
Duit Rp687,5 Juta di Meja Sidang, Kejati Jatim Buka Babak Baru Kasus Pungli ESDM
- Rabu, 21 Oktober 2026 21:23 WIB
OALA.id – Persidangan dugaan pungli perizinan Dinas ESDM Jawa Timur berbuntut ke meja penyidikan baru. Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim kini mengembangkan penyidikan dengan mendalami fakta-fakta yang terungkap di persidangan, termasuk dugaan penyerahan uang yang dikaitkan dengan mantan Kepala Dinas ESDM Jatim periode 2021–2024 berinisial NK. Pendalaman itu dilakukan untuk menguji keterkaitan keterangan di persidangan dengan […]
Truk Tronton Muatan Jagung Terguling di Bypass Balongbendo, Sopir Luka Ringan
- Selasa, 20 Oktober 2026 14:19 WIB
Sidoarjo, OALA.id – Sebuah truk tronton bermuatan jagung terguling di Simpang 3 Bypass Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 02.50 WIB. Kecelakaan tunggal tersebut diduga dipicu sopir yang mengantuk. Truk berwarna putih bernomor polisi B 8542 UCA itu melaju dari arah Surabaya menuju Mojokerto. Setiba di lokasi kejadian, kendaraan menabrak taman dan tiang […]
Imam dan Khotibnya Siswa Kelas 11, MAN Surabaya Gelar Sholat Istisqa di Tengah Kemarau Panjang
- Jumat, 23 Oktober 2026 15:48 WIB
OALA.id – Ratusan siswa MAN Kota Surabaya memenuhi lapangan sekolah, Jumat (23/10/2026). Di saf terdepan tidak ada guru yang menjadi imam — yang berdiri memimpin sholat istisqa dan naik mimbar berkhutbah justru siswa kelas 11, Sultan Nibras. Sholat minta hujan itu digelar menyusul kemarau panjang yang belum juga beranjak. Seluruh warga sekolah diwajibkan hadir di […]
PM Malaysia Apresiasi RI Tangani Karhutla, Usul Kerja Sama ASEAN Atasi Asap
- Selasa, 20 Oktober 2026 09:08 WIB
Jakarta, OALA.id – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengapresiasi kesungguhan pemerintah Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengusulkan mekanisme kerja sama di tingkat ASEAN untuk mengatasi kabut asap lintas batas. Usulan itu disampaikan Anwar pada Senin (19/10/2026) dan dilaporkan kantor berita nasional Malaysia Bernama; ia juga menyampaikannya melalui unggahan Instagram. “Saya mengakui […]
Namanya di Atas Dokumen Pokir, Anwar Sadad Justru Belum Pernah Diperiksa
- Jumat, 23 Oktober 2026 08:44 WIB
OALA.id – Nama Anwar Sadad membayang di hampir semua pembahasan sidang dugaan suap dana hibah pokir Jawa Timur di Pengadilan Tipikor Surabaya, Kamis (22/10/2026). Tapi sosok yang namanya tercantum di dokumen kunci pembagian jatah itu justru belum pernah diperiksa. Majelis hakim sampai mempertanyakannya di ruang sidang. “Perkara ini kan larinya ke tempat Anwar Sadad. Kalau […]
Dari Kota Pahlawan, Siswa MAN Surabaya Kirim Doa untuk Negeri
- Jumat, 23 Oktober 2026 09:04 WIB
OALA.id – Ratusan siswa dan guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Surabaya menundukkan kepala di lapangan sekolah, Kamis (22/10/2026). Dalam apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 itu, mereka memanjatkan doa bersama untuk keselamatan negeri — termasuk agar Indonesia dijauhkan dari bencana, seperti kebakaran hutan dan lahan yang masih membara di sejumlah daerah. Apel berlangsung khidmat. […]


