Dari Panggung Kampung ke Layar Ponsel, Ludruk Jawa Timur Berjuang Tetap Hidup
- Jumat, 23 Oktober 2026 13:40 WIB
- CULTURE

OALA.id – Sebuah episode ludruk kini bisa ditonton sambil rebahan. Akun TikTok @cakori75 mengunggah serial “Ludruk Karya Baru” dalam format episode — ada “EPS-7 Part 1”, ada “Part 2” — berbahasa Jawa dialek Surabaya yang khas, penuh guyonan segar, dan mengangkat kisah perjuangan hidup rakyat kecil. Menurut deskripsi akun itu, setiap pementasan diawali tari pembuka dan kidungan, lalu dilanjutkan lakon utama yang disisipi improvisasi humor spontan para pemainnya.
Itulah wajah baru ludruk: kesenian yang dulu digelar dari kampung ke kampung, kini ikut antre di linimasa. Pertanyaannya tinggal satu — apakah panggung digital benar-benar bisa jadi rumah baru, atau cuma etalase sementara?
Bukan kesenian kemarin sore
Ludruk bukan kesenian kemarin sore. Menurut catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, pertunjukan ludruk sebagai seni panggung sudah tercatat sejak 1822 — kala itu hanya dimainkan dua orang laki-laki: seorang pelawak dan seorang penari yang berdandan perempuan. Bentuk yang lebih utuh lahir sekitar 1930, ketika Cak Gondo Durasim mengorganisasi kelompok ludruk di Surabaya dengan dukungan Dr. Soetomo.
Nama Durasim melekat bukan sekadar sebagai pendiri. Pada masa pendudukan Jepang, ia melantunkan kidungan “pegupon omahe doro, urip melu Nipon tambah sengsara” — bekupon rumahnya burung dara, hidup ikut Jepang tambah sengsara — hingga ditangkap dan akhirnya wafat pada 1944, menurut Wikipedia. Sejak itu struktur ludruk menjadi baku: ngremo (tari kepahlawanan) sebagai pembuka, dagelan sebagai selingan lawak, kidungan atau jula-juli, lalu cerita yang bersumber dari legenda, sejarah, babad, sampai keseharian rakyat kecil. Satu ciri bertahan puluhan tahun: semua peran, termasuk tokoh perempuan, dimainkan laki-laki.
Anak-anak membuka festival
Bukti bahwa ludruk belum mau jadi barang museum terlihat pada Festival Ludruk Kepahlawanan Cak Durasim, Sabtu (5/9/2026), di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Dalam laporan seni.co.id, pembuka festival bukanlah maestro tua, melainkan anak kecil yang memukul gamelan lalu menari remo — disusul puluhan remaja yang memenuhi panggung dengan gerak tari tradisi.
Penggagasnya, Heri Lentho — nama lengkap Heri Prasetyo — menyebut pembuka anak-anak itu memang dirancang sebagai “gimik”. “Memang saya harus buat gimik memulainya,” katanya, dikutip seni.co.id. Gagasannya sederhana: ludruk harus dikenalkan sedini mungkin lewat pengalaman bermain. “Bermain di usia itu justru ikut membentuk karakter dan mental anak,” ujarnya.
Festival itu mempertemukan kelompok ludruk dari tiga kota: Jombang, Mojokerto, dan Surabaya. Dari Jombang, Komunitas Tombo Ati membawa WUH — lakon tentang orang-orang miskin di kolong jembatan yang terjebak judi, karya Babe Yuke, disutradarai Imam Ghozali AR. Dari Mojokerto, Ludruk Karya Persada di bawah arahan Kukun Triyoga membawakan Joko Sambang — cermin anak muda yang sibuk mengejar pendidikan dan karier sampai lupa menoleh ke keadaan sekitarnya. Karena melibatkan anak SD sampai dosen dalam satu produksi, Kukun memilih memakai naskah tertulis. “Kami tidak akan meninggalkan pakem-pakem ludruk,” tegasnya — bedayan, remo, kidungan, dan gending jula-juli tetap disuguhkan.
“Kita harus merasuki bahwasanya indahnya bermain ludruk, enaknya bermain ludruk, nikmatnya bermain ludruk,” kata Kukun, dikutip seni.co.id.
Penghargaan Cak Durasim Award malam itu diberikan kepada Agus Kuprit (68), yang 52 tahun hidupnya dihabiskan untuk ludruk — mulai serius belajar di THR Tegalwareng, Semarang, tahun 1974 saat masih duduk di kelas satu SMA, juara lomba ngidung Majalah Sarinah dua tahun berturut-turut (1988 dan 1989), direkrut menjadi pegawai RRI Surabaya pada 1991, dan pensiun pada 2017.
“Kalau kamu ingin ngeludruk jangan setengah-setengah. Yang total. Kalau memang kamu setengah-setengah, mundur saja.” Itu pesan ayahnya yang terus ia bawa, dikutip seni.co.id. Melihat anak-anak muda kini mulai belajar remo, ia berkata, “Saya sangat senang sekali ada pengganti saya.”
Naik ke layar
Sebulan setelah festival itu, Komunitas Tombo Ati mementaskan WUH di Gedung Kesenian Jombang pada Minggu (11/10/2026) — produksi ke-48 mereka, gratis untuk umum, dua sesi (pukul 15.00 dan 19.30 WIB), bagian dari rangkaian pra Jombang Fest 2026 atas fasilitasi Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, menurut agussiswoyo.com. Bagi penonton yang tak kebagian tempat duduk, panitia menyediakan videotron di luar gedung — panggung fisik yang sadar keterbatasan ruangnya dan membuka jendela tontonan bagi yang di luar.
Jauh sebelum itu, ludruk sudah lebih dulu masuk layar lewat lokadrama Lara Ati karya Bayu Skak — sinetron stripping SCTV yang juga tayang di aplikasi Vidio, dengan episode 16–17 menampilkan kesenian ludruk. Sebuah riset yang dipublikasikan di ResearchGate mencatat, lewat lokadrama Lara Ati di aplikasi Vidio itulah generasi muda mulai mengenal kesenian ludruk.
Dan di titik inilah digital bekerja dua arah: bukan cuma jadi panggung, tapi juga jadi papan pengumuman. Dion (36), perantau asal Kediri, tahu pertunjukan reog Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya di Taman Bungkul dari TikTok — lalu datang bersama istri dan anaknya pada Sabtu malam (17/10/2026). “Awalnya tahu dari TikTok, terus inisiatif sendiri buat malam mingguan ke sini,” ujarnya, dilansir bsinews.id dari Detikcom.
Reog ikut meramaikan
Malam itu enam grup reog tampil di Taman Bungkul: Bathoro Kathong dari Rungkut, Singo Sekar Budoyo, Singo Aska Wijoyo, Singo Kanoman Kuswantoro, Suro Bakti Budoyo, dan Sardulo Manggolo Putro. Pertunjukan dibagi dua sesi: reog versi garap yang mengikuti alur cerita atau pakem, serta reog versi obyok yang mengutamakan hiburan.
Indra (24) datang bersama istrinya tanpa rencana menonton, tetapi memilih bertahan setelah mendapati acara itu berlangsung. “Ya bikin ramai sih, biasanya cuma jalan-jalan aja, enggak seramai ini. Ada pertunjukan ini malah makin seru,” katanya.
Rina (29), yang memiliki garis keturunan Ponorogo, sengaja datang dan berharap pertunjukan semacam itu dirutinkan. “Ini sih enak, bisa mewujudkan seni di Surabaya jadi enggak mati,” ujarnya. “Terus biar anak-anak muda itu enggak melulu tentang yang modern-modern seperti nongkrong aja. Padahal lihat budaya gini juga seru,” katanya.
Reog sendiri sedang di atas angin. Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI digelar 11–14 Juni 2026 di Alun-Alun Ponorogo dengan 32 kontingen dari berbagai daerah — Surabaya, Nganjuk, Wonogiri, Surakarta, hingga Palembang — memperebutkan predikat penyaji terbaik dan Piala Presiden, menurut babeindonesia.com. Momentumnya makin penting setelah Reog Ponorogo diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Tidak semua kesenian seberuntung itu. Tayub Tuban, misalnya, mulai meredup sejak tahun 1990-an — tergerus hiburan modern serta teknologi dan hiburan digital yang lebih mudah diakses, menurut tulisan tuban.ink di Medium.
Cerita tiga menit
Sebuah tulisan di laman NU Gresik menawarkan cara pandang: ketika reog ditampilkan di YouTube, bisa ditambahkan narasi visual tentang filosofi topeng singo barong; ketika tembang Jawa masuk Spotify, bisa disisipkan kisah tentang nilai-nilai di balik liriknya, tulis laman NU Gresik.
Ludruk, reog, dan kawan-kawannya tidak sedang menunggu diselamatkan — mereka sedang belajar bicara dengan bahasa zaman: episode pendek di TikTok, videotron di luar gedung, lokadrama di aplikasi streaming, dan panggung-panggung kota yang difasilitasi pemerintah. Yang belum terjawab: apakah keramaian ini bertahan setelah festival usai — dan apakah arsip digital yang kini tersebar di akun-akun medsos akan dikelola sebagai warisan, atau sekadar jadi konten yang tenggelam oleh algoritma. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai agenda lanjutan Festival Ludruk Kepahlawanan Cak Durasim tahun depan.
Baca juga: 600 Penari Tumpah Ruah di Alun-Alun Sidoarjo, Hidupkan Kembali Legenda Tari Remo Munali Patah
Rekomendasi Untuk Anda
Cuma Tiga Minggu Latihan, Tim Sepak Bola Surabaya Tetap Bidik Emas Popda Jatim 2026
- Rabu, 21 Oktober 2026 17:29 WIB
OALA.id – Waktunya mepet, targetnya tidak ikut menyusut. Tim sepak bola Kota Surabaya untuk Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Timur 2026 hanya punya waktu efektif sekitar tiga minggu untuk bersiap — dan mereka tetap membidik medali emas. Optimisme itu disampaikan Abdullah, anggota Exco PSSI Kota Surabaya sekaligus penanggung jawab tim, usai seleksi pemain di […]
27 Ribu Warga Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis di Tambakrejo, Penanganan Lanjutan Juga Gratis
- Selasa, 20 Oktober 2026 09:47 WIB
OALA.id – Sebanyak 27 ribu warga telah memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah kerja Puskesmas Tambakrejo, Surabaya, sejak Januari hingga pertengahan Oktober 2026. Antusiasme warga itu didukung strategi jemput bola — pemeriksaan tidak hanya dilakukan di puskesmas, tetapi juga di Posyandu Keluarga, sekolah-sekolah, hingga pusat perbelanjaan. Kepala Puskesmas Tambakrejo drg. Yekti Hapsari menuturkan, […]
81 Tahun Lalu Dikumandangkan dari Bubutan, Teks Resolusi Jihad Kembali Diarak ke Surabaya
- Kamis, 22 Oktober 2026 13:48 WIB
OALA.id – Delapan puluh satu tahun silam, sebuah maklumat dibacakan di sebuah gedung di Jalan Bubutan, Surabaya, dan mengubah arah sejarah bangsa. Hari ini, Kamis (22/10/2026), teks maklumat itu kembali menempuh perjalanan pulang — dikirab dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menuju Surabaya, dikawal 99 sepeda motor Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Kirab naskah Resolusi Jihad ini […]
Duit Rp400 Juta Wira-wiri Lewat Mobil Dinas, Sopir Kadis ESDM Buka Suara
- Rabu, 21 Oktober 2026 13:07 WIB
Sidang saksi pungli ESDM Jatim ungkap dua hal: Ibnu Arief sebut pungutan sebagai dana CSR, saksi lain ungkap Rp400 juta berpindah lewat mobil.
PM Malaysia Apresiasi RI Tangani Karhutla, Usul Kerja Sama ASEAN Atasi Asap
- Selasa, 20 Oktober 2026 09:08 WIB
Jakarta, OALA.id – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengapresiasi kesungguhan pemerintah Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengusulkan mekanisme kerja sama di tingkat ASEAN untuk mengatasi kabut asap lintas batas. Usulan itu disampaikan Anwar pada Senin (19/10/2026) dan dilaporkan kantor berita nasional Malaysia Bernama; ia juga menyampaikannya melalui unggahan Instagram. “Saya mengakui […]
Dua Pasangan Indonesia Menantang Pasangan Nomor Satu Dunia di Paris
- Jumat, 23 Oktober 2026 14:11 WIB
Paris, OALA.id – Jumat malam di Grand Arena Paris menghadirkan ujian kelas berat bagi bulu tangkis Indonesia. Dua pasangan Merah Putih harus melewati pasangan berperingkat tertinggi di sektornya masing-masing untuk mencapai semifinal French Open 2026. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menantang unggulan pertama asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Pada lapangan yang berbeda, Amallia Cahaya […]
Jadwal SIM dan Samsat Keliling Surabaya Hari Ini, Selasa 20 Oktober 2026
- Selasa, 20 Oktober 2026 09:01 WIB
OALA.id – Warga Surabaya yang hendak memperpanjang SIM hari ini punya dua pilihan titik layanan keliling. Sementara itu, Samsat keliling tetap membuka 13 titik untuk urusan pajak STNK tahunan, dan bus umum seperti Suroboyo Bus serta Trans Jatim beroperasi seperti biasa pagi ini. SIM keliling: Terminal Bratang dan ITC Mall Berdasarkan jadwal resmi dari akun […]
Bayi Laki-laki Ditemukan di Balkon Rumah di Ploso Timur Surabaya
- Rabu, 21 Oktober 2026 19:05 WIB
OALA.id – Seorang bayi laki-laki ditemukan di balkon lantai dua sebuah rumah di Jalan Ploso Timur, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Rabu (21/10/2026) dini hari. Penemuan itu membuat heboh warga sekitar. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novitasari, mengatakan laporan penemuan diterima sekitar pukul 03.08 WIB. Petugas Tim Gerak Cepat (TGC) Kedung Cowek bersama Posko […]


